Pengakuan
Sampai pada tahap ini dalam hidup saya, saya berani bilang bahwa Harta Tahta Wanita penting namun tidak memperbudak saya. Saya bukan orang yang tergila - gila pada uang, saya juga berani bilang saya tidak tergila - gila pada wanita, meski saya juga pernah sakit karena jatuh cinta, meski honestly, mata tak bisa dikontrol when it comes to women. Saya juga berani bilang saya tidak tergila - gila dengan kedudukan. Tapi belakangan ini saya sadari, akan apa yang paling menjadi obsesi diri saya sebenarnya: Pengakuan.
Ada dua peristiwa yang membuat saya menyadari hal ini. Pertama, waktu penentuan kordinator asisten kuliah Inderaja dulu. Kordinator sebelumnya mengisyaratkan saya dan teman saya sebagai kordinator berikutnya, dan minta salah satu dari kami maju, kalau tidak dia yang menunjuk langsung. Saya terjebak waktu itu dalam konflik pemikiran saya, saya merasa tidak pantas karena sebenernya saya gak ngerti - ngerti amat Inderaja, dan temen saya lebih pantas, dan lagipula dia memang lebih ngerti Inderaja, namun di lain sisi saya merasa diakui dan senang. Menurut saya waktu itu seharusnya saya langsung mundur dari “bursa” dan menyerahkan posisi pada teman saya tersebut, tapi yang terjadi saya diam tak berbuat apa - apa karena terjebak dalam konflik pemikiran saya.
Peristiwa kedua adalah ketika jadi pengurus BSC. Sebenernya niat saya cuma ikut bantu - bantu aja di marketing, tapi karena kepala divisi marketingnya keluar, sayalah yang jadi kepala. Seharusnya waktu itu saya menolak, tapi karena lagi - lagi merasa diakui saya ambil posisi tersebut. Lalu dimulailah hari - hari dengan keinginan untuk menunjukkan kinerja bagus agar semakin diakui padahal di sisi lain saya tidak nyaman dengan apa yang saya jalani waktu itu. Akhirnya malah saya sedikit demi sedikit tereliminasi sendiri dari BSC. Tanpa kata - kata saya menghilang, ada kekesalan memang dibalik itu, tapi cara saya memang salah.
Bentuk kebutuhan saya akan pengakuan mirip seperti ketergantungan kepada obat tidur, terutama karena kepercayaan diri saya yang rendah. Saya butuh banyak dorongan dari orang lain untuk melakukan sesuatu, dengan pengakuan dan pujian orang lain kepercayaan diri meningkat berlipat namun dengan mudah pula kepercayaan diri saya hilang ketika pengakuan dan pujian itu pudar. Padahal, mungkin pujian dan pengakuan itu hanyalah kata - kata manis untuk membuai dan meyakinkan saya untuk berbuat sesuatu, untuk membuat saya menjadi penanggung beban.
- Uncategorized | Time: 3:45 pm (UTC+8)

menurut gw mah, mendingan kalau kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan maka hal itu akan lebih baik. Ada bagusnya jangan memaksakan sesuatu yang kita tidak suka karena hasilnya nggak bakalan maksimal. I know we still live in the 3rd world yang dimana pola pikir itu nggak akan berguna apabila dipresentasikan didepan orangtua kita, but why don’t we tried it?
Comment by agn — November 4, 2008 @ 10:36 am
yeah,,pinginnya kaya gitu, S 2 skrg juga dalam rangka mengikuti kata hati, tp kadang2 anggapan dan pandangan orang lain masih kerasa pengaruhnya buat saya gun
Comment by ahung — November 6, 2008 @ 12:56 am