FLAMBOYANT FELLOW
in photograph we define ourselves, beneath the blanket of fashion

February 28, 2008

Suatu Hari Keterlambatanku Akan Membunuhku

Terlambat, begitulah cara saya memulai hari, tidak selalu diawali dengan telat bangun tidur, tapi selalu diikuti dengan telat masuk kuliah, atau telat janjian. Bisa dibilang telat udah jadi kebiasaan, jadi secara alamiah setiap gerak tubuh memposisikan diri saya untuk terlambat datang ke tempat tujuan. Sebagai contoh, kalo saya kuliah jam 9, saya mungkin jam 7 udah bangun, tapi secara naluriah saya langsung bersikap santai sampai jarum jam menunjuk jam 8, yang mana merupakan batas “alami” saya untuk bersiap2 ke kampus, dan dengan batas ini hampir dipastikan saya akan selalu telat masuk kuliah. Jarak dari rumah ke kampus paling cepet menghabiskan 40 menit pake mobil pribadi, dengan kata lain saya punya waktu 20 menit untuk bersiap - siap. Buat orang lain waktu segitu mungkin cukup, tapi buat saya tidak, karena dalam waktu 20 menit tersebut, gerak tubuh saya sama dengan orang yang punya waktu satu jam buat bersiap2. Bila waktu normal saya mandi 15 menit, saya ga akan mempercepat waktu mandi, atau bahkan sampai ga mandi dalam keadaan terancam telat, hal ini berlaku untuk aktivitas - aktivitas lainnya.

Teman saya yang ahli psikologi memperkuat asumsi saya bahwa kebiasaan terlambat saya disebabkan karena saya berhasil lolos dari hukuman atau konsekuensi negatif di masa lalu ketika saya terlambat. Sehingga muncul sikap santai dan menyia-yiakan waktu. Namun sebenarnya, setiap kali terlambat rasa menyesal itu masih selalu muncul, lebih dari itu ada rasa frustasi karena sulitnya mengubah kebiasaan. Rasanya sia - sia saja saya mau berbicara banyak, melakukan banyak hal, kalo untuk berdisiplin saja masih kacau. Sia - sia berbicara soal keinginan saya berhemat dan peduli lingkungan dengan tidak menggunakan mobil pribadi saya untuk kuliah. Saya sadar kebiasaan buruk itu seperti bom waktu, seperti kebiasaan buruk merokok atau kebiasaan buruk penggunaan listrik yang ga perlu, efek buruknya baru terasa dalam waktu lama.

Adalah di Kamis pagi itu, saya untuk kesekian kalinya terlambat. Waktu itu saya untuk pertama kalinya menghadiri rapat panitia acara pertemuan 7 BHMN. Sepemahaman saya, tentu banyak pejabat ITB yang mengikuti rapat tersebut, dan waktu mungkin adalah sesuatu yang mahal untuk mereka. Tapi meskipun dengan menyadari hal - hal ini, kebiasaan saya masih menguasai saya, dan akhirnya saya pun terlambat 20 menit. Ketika tiba di depan gedung rapat, disitulah dada berdebar, dan otak berfantasi: saya masuk ruangan rapat, suasana mendadak dingin, mata - mata mengerling sinis, lalu langsung “orang - orang besar” itu membentak dan menceramahi tentang kedisiplinan dan penghargaan. Namun ternyata, untuk kesekian kalinya bom tak jadi meledak, rapat berlangsung santai dan tidak terlalu formal meskipun dihadiri ketua senat akademik ITB (yang katanya lembaga tertinggi di ITB). Saya masuk ruangan dengan senyum malu - malu, dan menunduk salam pada semua orang, lalu duduk sambil memikirkan apa yang orang2 ini pikirkan tentang saya, tapi tetap merayakan lolosnya saya dengan mengijinkan diri untuk mengintip buah - buahan segar yang tersimpan di meja,, laparnya saya, belum sempet sarapan.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://flamboyant.blogsome.com/2008/02/28/suatu-hari-keterlambatanku-akan-membunuhku/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>