FLAMBOYANT FELLOW
in photograph we define ourselves, beneath the blanket of fashion

March 29, 2006

Ekspedisi Bodoh

Sabtu, 25 Maret 2006

Chapter 1

telat bangun…harusnya jm 8.00 sy udh di terminal Dago, starting point ekskursi kuliah geowisata, tp sekarang jm 7.00 saya baru bangun dan bersantai ria.. abis ujan rintik2 dan dingin di luar.. malees pisaan…

Berbekal tiga bungkus roti, satu botol minum.. dan satu kaleng Pocari Sweat ( minuman wajib bw) dalam tas kecil..akhirnya berhasil juga mengejar anak2.. mereka udh nongkrong di Curug Dago.. beberapa kali urg ampir jatoh di tangga curam nan licin menuju Curug.. shiit, kenapa ini Curug selalu dalam kondisi basah tiap kali kesini, ga pernah kering.. jadi inget jaman2 Os himpunan dulu.. Sebenernya meskipun udh beberapa kali ke tempat ini, ampe hari itu saya masih blm tau di mana letak persis curugnya, karena memang ga ad penunjuk jalan yg jelas menuju Curug.. dan saya rada2 kaget juga pas liat keadaan Curug yang parah..yg kaya gini dijadiin obyek wisata? air sungai yg kotor, sampah menumpuk di berbagai sudut, tulisan2 sejenis”i was here”, “anu lope anu”, bertebaran di batuan2 sekitar Curug..

Well, speaking about this Curug.. Mr Budi (our dosen geowisata) explain that Curug ini merupakan pemberhentian aliran lava yang berasal dari Maribaya akibat letusan Tangkuban Parahu sekitar (lupa?) tahun yg lalu.. bagian atas curug merupakan lapisan batuan Basalt dan tengahnya merupakan batuan Aluvial.. Raja Thailand pernah mampir trus bikin prasasti yang dikandangin pake rumah kayu dan bambu.. Ngeliat keadaan Curug ini ga aneh pas sesi diskusi anak2 lebih banyak menyoroti pengelolaan Curug Dago daripada sisi geologinya.. and Mr Budi bilang semua pertanyaan soal pengelolaan Curug Dago memang merupakan permasalahan yang ada..

Melihat kondisi cuaca yg buruk, sekitar jm 10.00 an Mr Budi memutuskan membatalkan rencana melanjutkan ekskursi ke Maribaya.. tp beberapa kawan mencetuskan suatu ide untuk melanjutkan perjalanan..Ke mana? ya asal jalan aje yg penting.. dan ngeliat si Pa Budi menapaki jalan tanah lebar menanjak yang menuju Punclut, maka tujuh org kwn termasuk saya memutuskan mengikutinya.. Pa Budi sendiri emg udh bilang mo motret2 dulu sebelum pulang dan kebetulan anak2 ada yg lupa ngabsen.. jadi mulai lah kita jalan..

Chapter 2

Jalan tanah yg kami susuri adalah jalan yg menggunduli beberapa bukit melewati Punclut sampai menembus Lembang ato bisa juga nembus di Ciumbuleuit.. ketika kami berhasil menyusul Pa budi di sebuah warung.. bapa pemilik warung bertutur bahwa tanah2 sekitar jalan sudah dibeli oleh developer untuk dibangun villa2, rumah2 dan hotel2.. pembelian ini berlangsung setahap demi setahap meter demi meter selama bertaun2.. nasib bapa ini memang menyedihkan, tanahnya dibeli per m2 cuma 5000 perak dan sekarang bakalan dijual 3 juta per m2 .. dulu dia masih bisa bercocok tanam, sekarang? yg memuakkan dia juga dibujuk walikota Bandung utk menjual tanahnya.. emang jelas pemerintah ga berpihak pada rakyat.

Setelah sedikit basa-basi dengan Pa Budi dan ngabsen (bagian plg penting..hehe) kami melanjutkan perjalanan menuju arah Lembang.. Jalurnya naik-turun curam dan terjal.. bener2 melelahkan.. smpt cemas juga dengan perbekalan ala kadarnya.. apalagi sy ga biasa jalan2 model gini… apalagi tujuannya ga jelas dan jaraknya juga ga jelas brp jauh .. ekspedisi yg bodoh.. sy pikir..

Beberapa kali kita menemukan spot asoy buat poto2, bandung keliatan jelas dan indah dari ketinggian dan kejauhan.. Pemandangan paling indah ada pada puncak sebuah bukit dengan ketinggian melebihi teropong bintang Boscha.. puncak ini juga seperti menjadi klimaks dari perjalanan kami, karena kami harus melalui jalan aspal yang terjal, jauh dan berliku seperti ga ad ujungnya… hari itu seperti pelarian sesaat dari semua aktivitas dan masalah di Bandung, untuk sejenak sy keluar dari kotak dan melihat kotak itu dari luar.. terlihat betapa kecilnya dan tak berartinya diri ini di hadapan alam..

Di meter2 terakhir perjalanan kami sempat mampir di sebuah bengkel pribadi untuk menyedot sedikit yoghurt yang dijual di sana. Bengkel ini sangat menarik karena isinya merupakan koleksi kendaraan.. beberapa motor trail, vespa antik, moge, jetski, mobil gokart, truk gede, meski urg termasuk awam soal otomotif sy tau betul kendaraan2 ini mewah dan mahal.. si empunya -org china kurus berkacamata- dengan santai nya mengijinkan kami melihat2 dan ngambil poto..sementara dia sibuk mengotak-atik sesuatu di meja kerjanya..

Sekitar jm 2.30 siang kami sampai di Lembang, setelah mampir di warung nasi setempat kami meluncur kembali masuk ke dalam kotak yg kami tinggalkan.. ajaib juga sy bisa jalan sejauh itu.. dan lebih ajaib lagi sampai hari ini badan ga pegel2 ato sakit2, ternyata si flamboyan ga lemah2 amat…hari itu memang ga seprti hari2 lainnya dlm hidup si flamboyan, byk yg sy dapetin dan ga salah klo ada yg bilang utk mengetahui dan mengidentifikasi kenyataan dunia ini kita harus langsung terjun melihat, mendengar dan berbicara dengan alam dan segala komponennya.

kebetulan juga 24 Maret itu peringatan Bandung Lautan Api.. hehe.. itung2 lebih mengenal dan menghargai Bandung beserta para pejuang tempo dulunya..

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://flamboyant.blogsome.com/2006/03/29/cerpen-ekspedisi-bodoh/trackback/

  1. “…And it may be that you dislike a thing which is good for you and that you like a thing which is bad for you. dJJ1 knows, and you do not know.” (Al-Baqoroh,2:216)

    Comment by Frahmans — April 6, 2006 @ 1:44 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>