FLAMBOYANT FELLOW
in photograph we define ourselves, beneath the blanket of fashion

March 30, 2009

IT’S A WRAP!! –> BUNGKUS!!

Finally! thank GOD, after all those pressures and roadblocks…with tired legs, tired hands, tired eyes, tired mind, and tired soul, I managed to pass through my defense. What I had been up to intensively for 5 months ? Here’s a quick look:

THE ANALYSIS OF POTENCY ON CREATIVE CLOTHING INDUSTRY DEVELOPMENT IN BANDUNG USING SOFT SYSTEM METHODOLOGY

Abstract

Collaboration is a process of building agreement and aligning perspectives between several parties. Social collaboration is a form of collaboration among different social components with different roles and interests. Social collaboration will use the differences to enrich the decision making process in comprehending problems that people share together. In this study, social collaboration concept will be applied to creative clothing industry in Bandung, West Java, Indonesia, which is the leading sector of creative industry in Bandung.

This study was conducted by using collaboration concept of Academician, Business, and Government (ABG) as an approach in maximizing value creation of creative clothing industry in Bandung, Indonesia. Soft System Methodology (SSM) is used as a method to identify the roles and values of ABG actors and develop activity connection between the actors. SSM is a method that conducting normative analysis that relying on logic sense and descriptive analysis that capture existing reality in the object of study. Subsequently, these two analyses are confronted in a debate process to produce the best recommendation. In this study, in-depth interview was used to 18 informants of ABG that was selected by the recommendation from various ABG actors. Afterwards, confirmation process and focus group was conducted to produce the best recommendation.

This study successfully described the existing situation of creative clothing industry and the collaboration relationship between the actors. This study also successfully identified the value, value network, and value proposition in developing collaboration for creative clothing industry. This study found that the ABG collaboration needs to be modified to adapt with the Bandung society situation. Community needs to be positioned as one of the development pillar because of its crucial role in nurturing creativity and producing economic activity in a form of creative clothing industry. Hence, this study proposed the collaboration between Academician, Business, Government, and Community (ABGC) in a form of actors’ activity model to develop creative clothing industry. Through this study, the researcher proposed recommendation to solve conflict and problem that had been identified.

Keywords:
ABGC collaboration, Soft System Methodology, creative clothing industry

NOWW….I just want to be a pile of meat, just for now

February 23, 2009

The Stress

Here’s my everyday schedule for the next two weeks….

morning: weary eyes staring at the laptop with trembling fingers on the keyboard

noon: weary eyes staring at the laptop with trembling fingers on the keyboard

afternoon: weary eyes staring at the laptop with trembling fingers on the keyboard

night: weary eyes staring at the laptop with trembling fingers on the keyboard

It feels like I’m gonna throw up…. :(

January 10, 2009

MY HEROES

tiger wong 39

Ini adalah salah satu cover dan seri favorit saya dari serial Tiger Wong, di seri ini Tiger Wong sendirian ngelawan jago-jago dari kelompok merah, sangat heroik, ampe berdarah-darah si Tiger Wong masi aja bisa ngelawan, yang serunya dari cerita Tiger Wong, dia kalah level jagonya ama lawan2nya, ga cuma itu sih, segala-galanya kalah, tapi masih aja ngebandel

db27

Dragon Ball seri 27 ini adalah komik pertama Dragon Ball yang saya beli, waktu itu minta dibeliin dalam rangka ultah, udah ngidam berbulan2 tuh, penasaran pingin tau ceritanya si rambut bisa jadi kuning berdiri itu kaya gimana sih

seiya

Ini scene di lagu opening anime Saint Seiya, dulu saking tergila-gilanya tiap mo ditayangin pasti pake baju merah dan celana putih kaya Seiya hehe, sekali waktu udah ditunggu2, eh mati lampu pas sebelum mulai…waah nangis deh termehek-mehek..

kbh

Nah kalo yang ini… siapa lagi kalo bukan Ksatria Baja Hitam, sangat ditunggu2 setiap minggu pagi, mas kotaro nya juga keren banget..sapa yang ga tau jaman itu gaya dia pas mau…..”berubah!”

oh Tuhan…
naifkah jika saya ingin seperti mereka,
membela yang lemah dan bertarung untuk keadilan tanpa pamrih, seorang unsung hero sejati,
naifkah jika saya beresolusi ingin seperti mereka,
in this sick, sick world…

December 17, 2008

Regulasi dan Daya Saing

Tidak selamanya regulasi menghambat pertumbuhan usaha, dalam beberapa penelitian malah telah dibuktikan bahwa regulasi berpengaruh positif pada daya saing usaha. Gilson (1999) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa regulasi dapat mendukung daya saing ekonomi, inovasi, produktivitas, dan pertumbuhan industri.

Gilson dalam penelitiannya mengidentifikasi hal penting dalam kesuksesan pengembangan Silicon Valley dibandingkan dengan Route 128 yang tidak berkembang sebagai wilayah teknologi informasi di Amerika. Gilson melihat bahwa tahap pertama dari pengembangan ekonomi terkait erat dengan transfer teknologi dari universitas ke sektor industri (dalam hal ini Silicon Valley, Stanford University, dan Route 128, MIT). Akan tetapi, tahap selanjutnya dari pengembangan ekonomi tidak terlalu tergantung pada hubungan ini.

Salah satu faktor yang membedakan kesuksesan antara Silicon Valley dan Route 128 adalah adanya mobilitas pegawai (employee mobility) yang berlangsung terus menerus dalam Silicon Valley yang berkontribusi pada penyebaran dan berbagi pengetahuan (knowledge sharing) antara para ahli. Menurut Gilson, hal ini dapat terjadi karena di California (daerah tempat Silicon Valley berada) tidak memiliki no-compete clauses (perjanjian dimana pekerja berjanji untuk tidak menjalani profesi yang sama atau memperdagangkan hal yang sama dengan pihak yang memperkerjakan). Ini menyebabkan tingginya mobilitas pekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain serta tingginya peralihan pekerja dari pekerjaannya untuk memulai perusahaan sendiri yang menimbulkan aliran pengetahuan (knowledge flow) secara bebas. Hal semacam ini tak ditemui di Massachusetts tempat Route 128 berada.

Pendekatan infrastruktur legal yang berbeda, itu kuncinya, perbedaan regulasi yang diterapkan ternyata memang berpengaruh kepada perkembangan ekonomi. Menurut saya, tidak perlu bersikap resisten menyikapi wacana keterlibatan pemerintah dalam bentuk regulasi kepada dunia ekonomi atau bisnis. Regulasi tidak selalu berarti pajak , cukai, atau denda. Namun memang harus dicermati apakah regulasi tersebut diterapkan pada aspek - aspek yang tepat dan apakah regulasi yang dipilih mendukung atau menghambat daya saing ekonomi. Harus dicermati pula apakah sudah disiapkan regulasi lain sebagai penutup dari kelemahan regulasi yang diterapkan. Seperti halnya tidak diterapkannya regulasi no-compete clauses disokong oleh peraturan mengenai rahasia usaha. Pendapat saya ini pendapat awam lho, saya bukan ahli hukum atau pun ahli kebijakan publik, cheers!

Pustaka

November 5, 2008

REZEKI RAMADHAN


Wat Arun di sisi Sungai Chao Phraya, Bangkok

Terima kasih pada teman saya Syauqy, saya mendapatkan kesempatan langka untuk berkunjung ke Bangkok, Thailand pada 18 September - 21 September 2008, ditambah 6 jam jalan - jalan ekpres di Singapura. Saya sangat senang karena Thailand dan Singapura merupakan dua negara yang selalu saya ingin kunjungi di Asia Tenggara.

Beberapa ungkapan yang Syauqy sering ucapkan di sana dimana saya tidak mungkin tidak setuju antara lain:
“Rupiah lemah abis!”
“Indonesia lemah abis!”
“Suksen!” (diucapkan kepada para gadis—> suka dan senang)
“Sudah saatnya Jakarta punya MRT..”
(Katanya di Jakarta mau dibuat juga, mudah2an sih jadi kenyataan, tampak cukup efektif di Bangkok)